Matahari sudah mulai tinggi, kicauan burung di pagi hari mulai hilang. Namun, Zilva baru bangun tidur. Maklum, ini hari pertama libur akhir tahun. “ Wuaaaah… sekarang jam berapa sih? Sepertinya aku tidur terlalu nyenyak,” kata Zilva sambil menguap. Zilva lalu keluar kamar untuk mencari udara hangat. Di luar kamar terlihat Mama sedang menyapu lantai. Mama menatap Zilva dengan kaget . “ Astagfirullahalazim Zilvaa.. kamu kok masih acak acakan? Baru bangun tidur ?” tanya Mama keheranan.
“Hehe , iya Ma. Tadi habis sholat shubuh aku tidur lagi. Kesempatan gitu , mumpung libur,” jawab Zilva sambil tersenyum menyeringai.
“ Ck ck ck, ya sudah sana mandi dulu, udah jam 8.00 lho. Tuh badan kamu juga bau asem ,” ledek Mama
“ Ok Mamaa.. ”.
Setelah selesai mandi, Zilva berjalan menuju kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat melintas di depan kamar, Zilva mendengar Mamanya asik bertelepon. Langkah Zilva pun terhenti disitu. “Hmm, Mama teleponan sama siapa ya ? Kok kayaknya asik banget ? Ahaa, nguping ahh. Eh eh bentar deh, tapi nguping itu kan gak baik,”lirih Zilva kebingungan. “Ahh, sudahlah jiwa kepoku tak tertahankan.” Akhirnya Zilva menguping di balik dinding kamar.
Sedikit demi sedikit, Zilva tau dengan siapa Mamanya bertelepon dan apa yang sedang dibicarakan dalam telepon.“Ohh, ternyata Mama teleponan sama paman,” lirih Zilva. Tak lama setelah mengetahui hal itu, Zilva mendengar Mamanya berkata ,“Ohh, hari ini Fita dan Fito akan kesini bersamamu? Sekarang sudah dalam perjalanan?” Zilva pun terkejut. Fita dan Fito adalah sepupu Zilva yang tinggal luar kota. Tidak seperti orang pada umumnya yang merasa senang akan kedatangan saudaranya, Zilva malah sebaliknya. Pasalnya, saat terakhir kali Fita dan Fito datang mereka berebut buku majalah kesukaan Zilva sampai robek. Tidak hanya itu Mereka juga menumpahkan air minum ke laptop Zilva hingga rusak. “Hahh, apaaa? Fita dan Fito si kembar usil itu mau kesini? Hmm, sebenarnya aku rindu dengan mereka, karena lama tidak bertemu. Tetapi tetap saja aku kesal. Aku harus segera menyembunyikan semua mainanku!” gerutu Zilva. Zilva langsung lari terbirit-birit ke kamarnya.“Gubraak” , Zilva jatuh tersandung kakinya sendiri. “Zilva, ada apa ?” tanya Mama yang kaget mendengar suara tadi. “Ehh, gak ada apa-apa kok Maa.” Zilva pun berdiri dan masuk ke kamarnya
Zilva duduk di lantai kamar dan mengambil kardus kosong yang ada di kolong ranjang, lalu memasukan semua mainan dan barang berharga miliknya. Sambil memasukkan barang, Zilva menggerutu, “Huhh, kenapa sih mereka harus datang. Padahal kan hari ini hari pertama libur, harusnya aku santai, tidak sepeti ini. Ribet tauu!”. “Ehh, ngomong-ngomong kok Mama tidak memberitahuku ya jika Fita dan Fito mau kesini? Ahh sudahlah, lagipula aku sudah tau,” tambah Zilva.
Lima menit kemudian, semua barang sudah rapi dalam kardus. Sekarang Zilva tinggal melakban kardus itu rapat-rapat. Tetapi Zilva mengalami kesulitan dalam mencari lakban. “Iih, lakbannya ada di mana sih?” kata Zilva sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ahh, ya sudah deh, tanya mama aja. Sepertinya Mama juga sudah selesai teleponnya.” Zilva segera menemui Mamanya.
“Emm, Mama lakban di mana yaa?”
“Ohh, itu ada di rak gantung atas TV”.
“Oke, makasih Mama,” kata Zilva sambil berjalan.
Setelah mengambil lakban, Zilva kemudian menutup rapat-rapat kardus tadi dan memasukkannya kedalam kolong ranjang. “Huuh, akhirnya selesai juga,” kata Zilva sambil mengusap keringat di dahinya. Tenyata kepanikan Zilva tidak selesai di situ. Saat Zilva hendak keluar kamar, ia melihat laptopnya masih tergelatak di atas meja. “Waduhh, ini kok ketinggalan, jangan sampai nanti laptopku rusak lagi. Terpaksa deh, aku bukak lagi kardusnya.”
Saat Zilva ingin membuka kardus, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, “Tiiin” . Zilva semakin panik karena ia hafal bahwa itu adalah bunyi klalson mobil Pamannya. “Assalamualaikum, Kak Zilvaa”. Terdengar suara anak kecil dan suara langkahan kaki yang berjalan menuju kamar Zilva, ternyata itu suara Fita dan Fito . Zilva semakin panik. Dengan berat hati, akhirnya laptop tadi hanya disembunyikan di balik badannya.
“Halo, Kak Zilva,” sapa Fita dan Fito.
“Hehe, hai Fita Fito,” Zilva menjawab dengan wajah panik
Dalam hati Zilva berkata, “Lho tumben, mereka nyapa aku dulu. Bahkan tadi juga mengucapkan salam.”
“Kak, nanti kita baca buku bersama yaa.” ajak Fita dan Fito kompak.“Hmm, tetapi Kakak lupa tempat menaruh bukunya,” jawab Zilva berbohong. “Tenang Kak, saat ingin kemari aku dan Fita mampir ke toko buku dulu. Nih, ada banyak kok bukunya. Oh iya, ada buku majalah kesukaan Kakak juga lho,” kata Fito sambil menunjukkan kantong kresek yang dibawanya.
“Iya Kak, Aku dan Fito juga membawa martabak coklat kesukaan kakak lho. Nah, nanti kita makan sebelum baca buku. Biar asyik Kak,” timpal Fita.
Fita dan Fito tampak kompak merayu Zilva.
Tak disangka, hati Zilva tersentuh. Bagaimana tidak, ternyata Fita dan Fito yang sudah lama tak bertemu Zilva kini berubah. Mereka kini menjadi lebih manis dengan perilakunya. Sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan Zilva. Ternyata rayuan martabak coklat itu mampu mengukir senyuman di wajah Zilva. Zilva segera memeluk kedua sepupu kembarnya itu. Dalam hati ia mengungkapkan penyesalan atas prasangka buruknya, “ Maafkan Kakak ya, karena telah berburuk sangka kepada kalian berdua.”
Kini kepanikan Zilva sudah hilang. Zilva menggandeng tangan Fita dan Fito keluar kamar. Zilva lalu mengajak sepupunya bermain dan membaca buku bersama. Akhirnya Zilva membuka kardus mainan tadi dan memainkannya bersama Fita dan Fito, termasuk laptopnya. Sejak saat itu, Zilva selalu senang jika mendapat kabar bahwa Fita dan Fito akan berkunjung ke rumahnya.

Karya
Azka Aulia Nabilatummufida
SMP Terpadu Ma’arif Gunungpring