Dalam Al qur’an manusia sering disebut berulang kali akan diangkat derajatnya dan berulang kali juga di rendahkan derajatnya. Ini semua bisa terjadi jika manusia tidak bisa menempatkan dirinya sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh Allah dan tidak bisa memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya.
Allah Menciptakan manusia pada hakikatnya sebagai kholifah untuk mengatur dunia beserta isinya dan Allah telah memberikan bekal berupa akal pikiran serta ilmu.

Kedudukan manusia lebih tinggi derajaatnya dibanding makhluk lain karena manusia diberi akal pikiran ilmu dan nafsu sehingga manusia bisa mempunyai keinginan dan cita-cita. Jika manusia tidak bisa memanfaatkan kelebihan yang diberikan Allah maka derajat manusia akan rendah.

Maka peran ilmu pengetahuan dan ilmu agama di sini sangat penting dalam menciptakan manusia agar menjadi kholifah yang bisa mengatur alam semesta. Di samping manusia sebagai kholifah manusia juga punya kewajiban untuk menyembah Allah sebagai Tuhan pencipta alam sebagai bukti rasa syukur kita pada Allah yang telah menciptakan kita sebagai manusia yang sempurna.

Tugas manusia di samping sebagai kholifah dan punya kewajiban untuk mengabdi pada Allah dan kewajiban yang utama adalah meningkatkan kualitas diri menuju manusia yang bertaqwa dengan belajar sungguh-sungguh baik ilmu umum maupun ilmu agama karena kita hidup di alam dunia maka harus belajar ilmu umum sebagai bekal hidup di dunia dan ilmu agama sebagai bekal hidup di akhirat.

Banyak manusia terjebak dengan kehidupan dunia yang cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks ini semua disebabkan oleh sifat akal manusia seperti yang dinyatakan Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup. Berpikir kompleks dan mendalam sering dihindari oleh manusia dan kebanyakan manusia hanya berpikir hal-hal yang simpel dan praktis seperti persoalan ekonomi, sosial, dan kebutuhan hidup lainnya.

Hal ini bisa terjadi karena minimnya ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Tugas kita sebagai manusia yang sangat penting adalah mencari bekal tentang ilmu pengetahuan maupun agama sebagai modal untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai kholifah di muka bumi.

Di samping kita diciptakan sebagai kholifah di muka bumi kita juga harus tahu sebagai manusia harus mengenal hakikat hidup yang sejati. Hakikat hidup manusia sudah dibahas dalam agama Islam.

Keberadaan manusia di alam semesta ini bukan karena sendirinya tetapi karena sudah dirancang dan didesain dan proses penciptaannya dari Allah. Keberadaan manusia sebagai hasil ciptaan menyadarkan kita sebagai makhluk yang lemah, bodoh, dan fakir di hadapan Sang kholiq. Maka kita membutuhkan pertolongan dan sandaran hidup hanya pada Allah.

Manusia akan bisa bersandar, minta pertolongan kepada Allah jika manusia itu mengenal Allah. Maka kita sebagai manusia belajar tentang keyakinan dan keimanan melalui hasil ciptaan-Nya dan dilandasi dengan ilmu agama. Keyakinan dan keimanan akan tertata dan tertanam dalam hati jika manusia mau belajar dan berpikir tentang kekuasaan Allah dan menyadari akan kelemahannya.

Keyakinan dan keimanan akan dapat di temukan dan didapat oleh manusia jika mempunyai agama dan yakin dengan agama yang dianutnya. Agama yang membahas tentang keimanan dan keyakinan tentang adanya Allah hanya agama Islam. Agama terdahulu juga membahas keyakinan adanya Allah namun setelah Islam datang dan sebagai penyempurna agama terdahulu maka agama selain Islam sudah tidak diakui oleh Allah karena semua ajaran para Nabi terdahulu sudah disempurnakan dalam Islam.

Menurut Hasan Al Banan dalam kitab majmu’ Arrasail mengatakan keyakinan /aqidah adalah perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati mendatangkan ketentraman jiwa menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan.

Sumber Aidah adalah Al qur’an dan Assunnah artinya apa yang disampaikan oleh Allah dalam Al qur’an melalui para Rasul dalam sunah-Nya wajib diyakini dan diimani serta diamalkan. Akal pikiran bukan sumber aidah Islam tetapi merupakan instrumen yang berfungsi untuk memahami nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba kalau diperlukan. Membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al qur’an dan sunah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masalah-masalah gaib bahkan tidak akan sanggup menjangkau sesuatu yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Setelah manusia memahami tentang hakikat hidup dan tujuan hidup, memahami tentang akidah dan keyakinan serta agama maka manusia akan kembali ke fitrahnya sebagai kholifah di muka bumi dengan mengemban amanat Allah dan akan mengabdi kepada-Nya.

 

Siti Muyasaroh