Maulid Ad Diba’i

 

      Beliau adalah Wajihuddin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba’i  al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi Asy-Syafi’i (yang dikenal dengan Ibn ad-Diba’i). Ad-Daiba’i menurut  Bahasa Sudan artinya putih. Itu julukan kakeknya yang agung Ibn Yusuf. Beliau dilahirkankan pada tanggal 4 Muharam 866 H ( 8 Oktober 1461 M) dan wafat hari Jumat 12 Rajab 944 H ( 15 Desember 1537 M). Jadi usia beliau kurang lebih 76 tahun.

      Beliau adalah seorang ulama hadis yang terkenal dan tiada bandingannya pada masa hayatnya. Beliau mengajar Kitab Shahih Al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Al-Hafidz dalam ilmu hadits, yaitu seorang yang menghafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. diantara guru-guru beliau adalah :

  1. Al-imam Al-Hafizh As-Sakhawi
  2. Al Imam Ibnu Ziyad
  3. Al-Imam Jamaludin Muhammad bin Ismail
  4. Mufti Zabid
  5. Al-Imam al-Hafidz Thahir bin Husain Al Ahda

      Dalam bidang fiqih beliau bermazhab Syafi’i. Oleh sebab itu, beliau termasuk golongan Ahlussunnah Wal Jamaah karena masih mengakui dan mengikuti salah satu mazhab empat. Banyak hal yang bisa dijadikan bukti bahwa beliau termasuk golongan Sunni, antara lain, di dalam shalawat yang dikarangnya, beliau mengatakan :

يا رب وارض عن الصحابة            يا رب وارض عن السلالة

(مجموعة مولد وأدب عية، ص ٦٦ )

Ya Rabbi ridhoilah para sahabat nabi SAW, Ya Robbi ridhoilah keturunan nabi SAW”. ( majmu Maulid Diba’iyah, hal 66)

       Ibn Diba termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik di bidang Ilmu Hadits ataupun sejarah.Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah)  atas Nabi Muhammad SAW  yang terkenal dengan sebutan Maulid Ad-Diba’i

      Al-Imam Al-Jalil Abdurrahman Ad-Diba’i  hidup sezaman dengan khalifah Harun Ar-Rasyid di abad ke-9. Pada suatu ketika khalifah Harun Ar-Rasyid melihat rakyatnya tidak adanya kesemangatan dalam mengerjakan ajaran Islam baik saat peperangan maupun dalam kehidupan sehari-hari, beliau teringat cerita tentang orang-orang kafir terdahulu, yang mana meminta pertolongan atas nabi SAW  yang diutus di akhir zaman.

     Akhirnya khalifah Harun Ar-Rasyid mengadakan sayembara besar-besaran bagi siapa yang bisa mengumpulkan Matan hadis hadis tentang kehidupan Rasulullah SAW  baik perkataan pekerjaan dan sikap beliau. Nanti akan diberikan sebuah penghargaan. Akhirnya berita tersebut sampai kepada Al-Imam Al-Jalil Abdurrahman Ad-Diba’i dan kemudian beliau menulis sebuah karangan, karena kepandaiannya dalam menghafal hadits-hadits, beliau dengan mudah mengarang sebuah kitab yang kita kenal sekarang ini dengan sebutan Maulid Ad-Diba’i. Selesai mengarang, beliau langsung bertemu dengan Baginda Rasulullah SAW  dalam mimpinya, dikarenakan kecintaannya dan kehati-hatian nya dalam mengumpulkan Matan hadis hadis tentang kehidupan Rasulullah SAW. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:      

من كذب علي متعمدا كان مقعده على النيران

 “barangsiapa yang mengada-ngada atasku maka tempatnya di neraka

     Di kemudian hari diumumkanlah pemenang sayembara dengan kesepakatan khalifah Harun Ar-Rasyid diantaranya: Maulid Al Barzanji (Al Imam Al Barzanji) dan Ad Diba’i (Al Imam Abdurrahman Ad-Diba’i). Maulid Al Barzanji terkenal di Makkah dan Madinah dan Maulid Ad-Diba’i terkenal di Yaman

     Pada tahun 787- 800, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi menyemangatkan semua pasukan perangnya dengan membaca Maulid Ad-Diba’i di masjid Fatimiyah (An-Nuri). Dan pada akhirnya Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dengan pasukannya berhasil merebut kekuasaan Islam kembali yang telah direbut oleh pasukan Frank dengan lafadz yang selalu teringat di pikiran yang berbunyi :   

  الحمدالله القوي الغلب الولي اطالب

“Segala puji bagi Allah SWT  yang Maha Kuat dan menang yang menguasai dan menuntut

     Sampai abad ke-21, Maulid Ad-Diba’i masih aktif dibaca oleh ulama-ulama di seluruh penjuru dunia khususnya di Indonesia. Masyarakat Indonesia sendiri banyak melakukan kegiatan peribadatan yang dimulai dari adanya pengajian,tahlilan,tadarus dan sebagainya yang berkaitan dengan memuji kebesaran Allah. Oleh karena itu banyak amalan amalan istimewa pada hari jum’at yang mana dapat dikerjakan pada malam sebelumnya seperti membaca Maulid Ad-Diba’i. Adapun sholawat Diba’i biasa dibawakan juga dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan sebagai amalan yang disunnahkan untuk dibaca Ketika datang nya malam jum’at seperti dalam sebuah hadits Riwayat Baihaqi

“ Perbanyaklah untuk membaca shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawat umatku akan diperlihatkan kepadaku pada setiap hari jum’at. Barangsiapa banyak bershalawat kepadaku,dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”

 

TAMAT

Anak-anak, sesudah kalian membaca tentang cerita Maulid Ad-Diba’i, silakan jawab pertanyaan-pertanyaan dengan klik link berikut ini https://forms.gle/iabCJTgD38RYesqV6

Nurul Oktavia Sa’adati, S.Pd.