Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahasa yang harus kita jaga. Bahasa Indonesia disebut juga sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Coba kita bayangkan jika tidak ada bahasa persatuan maka kita akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Bahasa Indonesia memiliki kosa kata yang sangat banyak dan terus mengalami perkembangan. Hal ini bisa kita lihat ada beberapa kata baru dan ada pemutakhiran pada KBBI edisi Oktober 2019. Bahasa kita banyak menyerap dari kata asing, kata serapan menjadi kata baku dan masuk KBBI. Padanan kata asing dan kata-kata dari istilah “gaul” sudah mulai muncul pada pemutakhiran kali ini.

Menurut Ivan Lanin dalam  http://ivanlanin.wordpress.com ada 31 kata favorit yang muncul pada pemutakhiran KBBI. Antara lain kata julid, adiwira, dan baper.

Bahasa Indonesia menyerap banyak kata dari bahasa-bahasa lain, terutama yang pernah berhubungan langsung dengan Nusantara, baik melalui perdagangan (Sanskerta, Tionghoa, Arab), melalui penjajahan (Portugis, Belanda, Jepang), maupun karena perkembangan ilmu pengetahuan (Inggris). http://(https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kata_serapan).

Pemutakhiran KBBI juga mengubah ejaan kata dari bahasa Arab. Misalnya penulisan
Alquran = Al-Qur’an
Kakbah = Ka’bah

Akan tetapi, kita sebagai pengguna bahasa sering kali mencampuradukan bahasa. Kita menggunakan bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa asing atau bahasa daerah. Bahkan kita kadang tidak tahu kalau dalam bahasa Indonesia ternyata ada kata tersebut.
Misalnya:
Technical meeting akan dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Februari 2021. (Gabungan basaha asing dan bahasa Indonesia)

Banyak kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang masih terasa asing di telinga kita. Bahkan, tanpa kita sadari kita lebih sering menggunakan istilah atau kata dalam bahasa lain. Tidak ada salahnya jika kita menjunjung bahasa persatuan kita bahasa Indonesia sesuai dengan naskah Sumpah Pemuda. Hal ini bisa kita lakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Yuk kita cek beberapa kata yang masih jarang kita gunakan.

1. Narahubung
Kita lebih sering menggunakan istilah CP (contact person) daripada kata narahubung.

2. Acuh atau acuh tak acuh

Dia sangat acuh kepadaku.
Dia bersikap acuh tak acuh.

Jangan salah maksud terhadap dua kalimat tersebut. Kalau kita salah mengartikan maka akan salah. Kata acuh sendiri memiliki makna peduli, sedangkan kata gabungan acuh tak acuh memiliki makna tidak peduli. Jadi jangan sampai salah saat kita menggunakan kata tersebut.

3. Taklimat
Apa itu taklimat?
Kita lebih sering menggunakan technical meeting saat membuat surat pemberitahuan untuk bertemu membahas atau menyampaikan informasi. Biasanya saat akan dilaksanakan perlombaan peserta dikumpulkan untuk membahas teknis lomba. Sebenarnya kita memiliki kata taklimat yang bermakna sama dengan technical meeting.

4. Tetikus
Sangat jarang orang menggunakan istilah tetikus, memang terasa asing bahkan aneh. Tetikus memiliki makna yang sama dengan mouse yang sering kita gunakan untuk menggerakan krusor.

Tetikus: n komp peranti periferal pada komputer yang memyerupai tikus, gunanya, antara lain, untuk mengendalikan krusor. http://kbbi.kemdikbud.go.id

5. Unggah dan unduh
Kedua kata ini adalah kata yang seolah-olah berpasangan. Kita juga masih jarang menggunakan kedua kata ini. Kita lebih sering menggunakan kata  upload dan download.

6. Adiwira
Adiwira mempunya makna pahlawan super. Kita jarang sekali menggunakan kata tersebut, kita lebih sering menggunakan kata ­super hero.

Bahasa Indonesia itu kaya. Ternyata bahasa kita juga mempunyai kata-kata yang bisa kita gunakan seperti beberapa kata asing yang lebih sering kita gunakan.

Mari kita belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

 

Novia Yeni