Karawitan merupakan istilah yang paling akhir digunakan untuk menyebut musik gamelan Jawa. Setidaknya terdapat tiga sebutan untuk bunyi-bunyian gamelan Jawa, yaitu gamelan, musik Jawa, dan karawitan. Ketiganya secara konseptual memiliki arti yang sejajar, yaitu sistem musik gamelan Jawa (Waridi, 2006: 138-139). Merujuk pada istilah karawitan yang sudah populer dikalangan masyarakat yang dikaitkan dengan musik gamelan Jawa. Martopangrawit dalam kutipan bukunya yang berjudul “Pengetahuan Karawitan Jilid 1” (Surakarta: ASKI Surakarta, 1975), bahwa istilah karawitan berasal dari kata “rawit” yang berarti halus atau rumit (kompleks). Sifatnya rumit karena merupakan perpaduan berbagai instrumen gamelan yang bernada nondiatonis yang digarap dengan sistem notasi, warna suara dan ritme sehingga menghasilkan suara yang indah dan enak untuk didengar. Karawitan sendiri sebagai seni suara jawa yang ditimbulkan dari gamelan dan suara manusia dalam laras sléndro dan pélog. Kata gamelan dan suara manusia menunjuk, bahwa sarana ekspresi karawitan menggunakan gamelan dan suara manusia, sedangkan kata sléndropélog menunjuk tangga nada (laras) yang digunakan.

Seni karawitan, selain erat kaitannya dengan alat musik yang menghasilkan bunyi-bunyi yang berbeda dan enak didengar, juga memiliki peran terbesar dalam memainkan instrumennya tidak lepas dari seorang pemain atau yang disebut dengan pengrawit. Penyanyi atau yang disebut dengan pesindhen juga sebagai pelengkap terciptanya sebuah sajian musik karawitan. Lewat lantunan lagu atau gending yang dibawakan oleh pengrawit dan pesindhennya. Karawitan yang notabene termasuk dalam keluarga musik tradisional yang banyak alat musiknya. Instrumen musik karawitan tersebut selain dari bentuk ricikan atau alat musik, namun juga teknik memainkan ricikan yang berbeda-beda. Permainan musiknya membutuhkan kerjasama yang baik antar pengrawit maupun pesindhennya. Dengan kerjasama yang baik dan menggunakan rasa untuk memainkan instrument secara bersama akan terwujud sajian karawitan yang indah.

Musik tradisional yang saat ini sudah jarang sekali diketahui oleh masyarakat, terutama kalangan remaja. Hampir setiap remaja tidak begitu mengerti tentang karawitan atau musik karawitan. Musik karawitannya saja tidak paham, apalagi dengan alat musik atau instrumennya. Mereka beranggapan, bahwa musik karawitan itu kuno atau jadul. Padahal musik karawitan termasuk musik warisan leluhur yang harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan. Sebagai bentuk pelestarian seni karawitan agar dapat bertahan eksistensinya, di berbagai sekolah dasar maupun sekolah menengah mengadakan kegiatan ekstrakulikuler karawitan. SMP Terpadu Ma’arif Gunungpring salah satu sekolah menengah yang mengadakan kegiatan ekstrakulikuler karawitan. Sejak tahun 2017 sampai dengan sekarang kegiatan ekstrakurikuler tersebut masih dilaksanakan. Melihat minat dan bakat dari siswa, kemudian dirapatkan dan diputuskan untuk melakukakan kegiatan ekstrakulikuler dan mengembangkan bakat siswa. Dari situlah kemudian disahkan oleh kepala sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler tersebut dilaksanakan setiap hari Selasa jam 16.00-17.00 atau tepatnya setelah selesai KBM. Selain mengembangkan minat dan bakat siswa, juga meningkatkan kerja sama yang baik antarsiswa (wawancara: Wahyu Aji, 23 Desember 2020).

Hal kecil pembiasaan untuk tetap melestarikan budaya sendiri harus kit lakukan. Salah satunya yaitu dengan mempelajari mengenai budaya warisan leluhur. Membaca mengenai sejarah kebudayaan juga bagian dari mempelajari kebudayaan yang dimiliki bangsa kita. Tidak meninggalkan kesenian dari warisan leluhur dan tetap menjaga warisan budaya. Dengan adanya kegiatan ekstrakulikuler tersebut, sudah menunjukkan bentuk pelestarian kebudayaan Jawa khususnya seni karawitan.

Seperti orang Jawa mengatakan, sebagai berikut “Nguri-uri kabudayan Jawi”
Cintai dan lestarikanlah kebudayaan sendiri sebelum direbut oleh bangsa lain.
Jangan malu untuk mempelajari tentang kebudayaan kita sendiri, kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan budaya sendiri, mau siapa lagi?

Kebudyaan adalah salah satu aset yang sangat berharga untuk kita jaga!

Semangat mempelajari sejarah budaya.

Nur Mut Mainah, S.Sn.