Sebagai makhluk sosial, manusia selalu melakukan komunikasi dengan sesamanya, baik  lisan maupun tulisan. Komunikasi dilakukan oleh penyampai pesan atau komunikator dengan penerima pesan atau komunikan dengan tujuan menghasilkan tanggapan yang sesuai. Adanya kesesuaian dan kesepahaman menjadi bentuk keberhasilan dalam berkomunikasi. Sebaliknya, pelanggaran terhadap sistem komunikasi baik sengaja atau tidak, menyebabkan timbulnya kesalahan berbahasa yang menghambat tujuan komunikasi (Ghufron, 2015:12). Situasi seperti itu dapat terjadi dalam komunikasi lisan maupun tulisan, seperti halnya komunikasi melalui media sosial WhatsApp. Pembelajaran pada masa pandemi berlangsung secara Online atau dalam jaringan (daring). Penggunaan Whatsapp menjadi salah satu sarana yang digunakan dalam pembelajaran.

Pragmatik merupakan kajian tentang cara bagaimana para penutur dan petutur dapat memakai dan memahami tuturan sesuai dengan konteks situasi yang tepat (Ghufron, 2015:78). Menurut Ghufron (2015:79) pragmatik mempelajari empat hal, salah satunya tindak ujar (speech act). Tindak ujar merupakan istitlah di mana setiap ucapan yang disampaikan memiliki maksud tertentu, dapat bermaksud permintaan, perintah, ajakan, maupun tawaran ( Ghufron, 2015:81). Misalnya dalam percakapan singkat di Group Whatsapp yang melibatkan guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan atau penerima pesan. Sebagai misal, seorang guru yang akan mengajar secara daring, berkata kepada siswanya:

“Apakah ada pertanyaan dari tugas yang baru saja saya berikan?”

Dalam kalimat itu, sang guru tidak hanya bermaksud tawaran jika ada yang mau bertanya sebelum mengerjakan tugas, tetapi ada maksud lain yang ingin disampaikan kepada siswanya. Secara pragmatik, makna dasarnya bernada menawarkan. Tindakan yang diinginkan yaitu siswa segera mulai mengerjakan tugas.

Berdasarkan cara penyampaiannya, tuturan dibedakan menjadi tuturan langsung dan tidak langsung. Tuturan langsung adalah tindakan yang diinginkan isinya sama persis dengan yang diucapkannya, mengandung makna eksplisit atau terus terang. Tuturan tidak langsung yaitu pengucapan suatu tuturan dengan cara lain atau mengandung makna implisit atau tidak serta merta (Ghufron, 2015:82). Misalnya, seorang guru yang masuk di kelas grub Whatsaap melihat banyak siswa belum menuliskan presensi kehadiran, untuk memulai pembelajaran daring, sang guru ingin agar siswanya presensi terlebih dahulu. Ia mengatakan tuturan langsung (a) dan tuturan tidak langsung (b), sebagai berikut:

a. Guru : “Tolong, presensi dulu!”

Siswa : “Ya, Pak, sebentar.”

b. Guru : “Kok yang muncul baru tiga anak ya.”

Siswa : “Ya, Pak. Sebentar.”

Kedua tuturan tersebut memiliki makna bahwa guru menginginkan siswa segera presensi.

Berdasarkan pengamatan dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa keberhasilan komunikasi terlihat jika penerima pesan menanggapi dan melakukan tindakan sesuai dengan yang disampaikan pemberi pesan. Sebaliknya, kegagalan komunikasi diakibatkan penerima pesan tidak menanggapi atau tidak melakukan tindakan sesuai yang diinginkan oleh pemberi pesan. Siswa perlu meningkatkan pragmatik komunikasinya dengan guru dalam pembelajaran daring sehingga terbentuklah komunikasi secara utuh dan padu.

Semangat jadi siswa yang pandai berkomunikasi dengan baik.

 

Elmalika Cahyani, S.Pd.